Senin, 23 Maret 2015
Menjadi Guru yang Ideal
18.14
|
Dalam
perjalanan bangsa, pendidikan merupakan modal dasar pembangunan yang
akan menentukan arah perkembangan dan kemajuan suatu bangsa dan negara.
Pemerintah berupaya meningkatkan kualitas guru, dengan berbagai cara
salah satunya adalah sertifikasi guru. Melalui sertifikasi ini
diharapkan para guru dapat bertindak secara profesional? Sebenarnya
apakah seorang guru itu harus profesional?. Dari kata profesional ini,
seolah-olah guru yang bersertifikasi adalah guru yang benarr-benar
mumpuni dan dapat ditiru oleh anak didiknya segala tindakannya, sesuai
dengan istilah jawa, guru adalah digugu lan ditiru (segala perkataannya
selalu diperhatikan anak dan tingkahlakunya akan ditiru anak).
Ketika
seorang guru berkata pada anak didiknya, “Anak-anak kalau datang itu
jangan terlambat, kalau ingin sukses kalian harus disiplin, tepat
waktu!” “ya pak guru” jawab muridnya serentak. Guru juga memberi petuah
lagi “Anak-anak, kalau ada sampah berserakkan maka kita harus meletakkan
pada tempatnya, yaitu dimana?” tempat sampah pak, jawab anak-anak
dengan penuh semangat. Bagus, bagus… “jawab guru”. Hal ini membutktikan
bahwa semua perkataan gurunya selalu diiyakan siswanya.
Keesokkan
harinya guru datang pukul 07.10 menit. Anak-anak bagaimana pelajaran
hari ini apa kalian siap belajar? Siap, karena dari tadi kita menunggu”
jawab muridnya. Bagus kalian sangat tertib dan disiplin. Puji gurunya.
Kemudian bel istirahat berbunyi tet… tet… anak-anak boleh istirahat”
kata guru. Jangan lupa ya! Kalau ada sampah diambil dan diletakkan pada
tempatnya. Perintah gurunya. Waktu bermain anak-anak melihat gurunya
tadi berjalan dengan santai dan hanya melihat dengan cuek beberapa
bungkus makanan yang berceceran. Dengan santai guru masuk ruangan dan
membolak-balik buku pelajaran yang akan disampaikan pada muridnya.
Inilah
contoh atau gambaran bentuk sertifikasi yang dilakukan pemerintah
kepada guru. Karena, itu saya prihatin melihat para guru yang rata-rata
mengedepankan intelektual dari pada hati yang berbicara. Mengedepankan
ceramahnya dan tutur pituturnya dari pada perbuatan yang dilakukannya.
Ketika musim sertifikasi guru berusaha menjadi seorang pembohong dan
pendusta. Kenapa tidak semua kumpulan makalah difoto copy, piagam
dipalsukan. Hanya mengejar selembar kertas bergambar soeharto atau yang
lain. Naifnya seorang guru bersertifikasi. Untuk itu perlu disadari
sesungguhnya guru ideal yang didambakan seorang anak adalah keteladanan
dan perlu contoh, serta bukti dimana apa yang dikatakan pasti
dilakukannya.
Saya
pribadi merasa risih dengan kejadian yang mencorang nama baik guru,
seyogyanyalah kita kembali ke khitah kita sebagai orang yang tahu malu,
dan dengan mengedepankan kejujuran, serta suritauladan. Guru teladan
yaitu ketika ia menyuruh anak didiknya untuk disiplin maka ia terlebih
dahulu belajar untuk disiplin, ketika menyuruh anak didiknya jika ada
sampah berserakkan diambil, maka terlebih dahulu kita membersihkannya,
dan sebaginya. Jadi hendaknya guru selalu mengedepankan perbuatan,
kemudian menyampaikan kepada anak didiknya. Karena anak sejatinya selalu
melihat, dan mencotoh apa yang dilakukan seorang guru. Tetapi jika
hanya mendengar saja pasti yang didengarnya itu akan terlintas sesaat
kemudian musnah dihilangkan oleh perbuatan guru itu sendiri. Karena
kunci keberhasilan seorang guru ada pada perilaku dan perkataannya, dan
bukan karena lulus sertifikasi guru
Untuk
itu para guru sebaiknya cobalah berpikir, bertindak sesuai dengan hati
nurani, dan cobalah untuk malu kepada siswa. Jangan hanya menganggap
siswa itu sebagai objek yang pasif, dan anggaplah siswa itu sebagai
orang yang selalu memperhatikan dan mengkritik kita. Ketika apa yang
kita lakukan tidak sesuai dengan ucapan kita maka hendaknya selalu mawas
diri dan berusaha memperbaikinya…….. Hidup Guru!!! Ayo Mengajar dengan
Hati dan Keteladanan Oke….
Langganan:
Komentar
(Atom)